Tanggal 21 Desember 2013
Ahmad Sakti Hasibuan
Tukang Parkir Kuliah
Cerita ini bermula dari seketika Saktu baru saja meluluskan
pendidikan di Madrasah Aliyah Darul Falah Langgapayung. Sebuah pesantren ternama
di kabupaten Labuhan batu. Sebagai seorang santri yang baru saja lulus,
melanjutan pendidikan agama ke jenjang yang lebih tinggi sudah menjadi imipan
Sakti hingga kelak bisa menjadi panutan kepada masyarakat secara umum dan
keluarga khususnya. Namun dari segi kondisi keuangan keluarga yang morat-marit,
Sakti tidak begitu yakin kalau niatnya akan kesampaian.
Hampir sebulah setelah aku kembali bersama keluarga, ayah dan
ibunya belum pernah seklaipun menyinggung persoalan kearah itu. Sakti sendiri
tidak mau mengungkitnya. Takut kalau hal itu akan membuat ayah dan ibu bersedih
dan berkecil hati. Namun, satu malam seusai shalat isya Sakti memberanikan diri
bercerita kepada ayahnya untuk menunda kuliah dengan alasan alau ia ingin
membantu ayah bekerja dulu.
Sempat terjadi perdebatan kecil dengan ayahnya. Ayahnya sempat
bilang, “Apapun ceritanya kamu harus kuliah!” Ayahnya optimisSakti harus kuliah
tahun ini. Walaupun sebenarnya harapan itu sangat kecil jika dilihat dari segi
keuangan keluarga.
Kebetulan atau tidak, keesokan harinya, Ibu Kuma, kepala
sekolah SD Negeri yang letakkya tepat dibelakang rumah Sakti datang ke rumah. Bu
Kuma memintanya untuk mengajar di SD tersebut karena mereka lagi kekurangan
tenaga pengajar. Di luar dugaan, ternyata ayahnya tidak mengizinkan untuk
mengajar dengan alasan akhir bulan ini, Sakti harus berangkat ke medan untuk
mendaftar kuliah.
Entah dari mana sang Ayah mendapat ide tersebut. Padahal saat
itu pendaftaran SPMB sudah tutupu. Bahkan pendaftaran ujian lokal ke IAIN pun
sudah tinggal beberapa hari lagi. Kalau ayahnya bilang ia akan berangkat ke
Medan akhir bulan ini, itu meruapakan hal yang sia-sia. Tapi, itulah ayah
Sakti. Semangatnya begitu tinggi agar anak-anaknya melanjutkan sekolah.
Berselang tiga bulan Sakti mengajar di SD biasanya guru komite
seperti Sakti akan mendapatkan gaji atas pengabdian selama tiga bulan ini. Niatnya
akan memberikan separuh dari gaji yang diterima kepada ayah dan ibunya sudah
bulat. Sedangkan selebinya akan ia gunakan untuk keperluan pribadi dan membeli
pupuk untuk pertanian cabe yang sedang ia tekuni.
Bagi Sakti, mengajar di SD adalah salah satu cara untuk
menghilangkan rasa iba terhadap diri sendiri kerena belum bisa segera kuliah. Tapi
ia harus berhenti mengajar karena masalah tertentu. Motivasinya untuk kuliah
juga turun drastis.
Keadaan pun berbalik. Kalau selama iniSakti bertahan untuk
tinggal di kampung karena ada aktivitas mengajar yang bisa meredam keinginan
utuk kuliah, sekarang aktivitas mengajar sudah berhenti. Kebosanan mulai
mengahmpirinya. Sakti sudah tidak betah. Niatpun dibulatan untuk mencari
hembusan angin cerah dengan mengadu nasib ke kota.
Nasehat Ustadzah H. Ramli masih terus diingat. Beliau mengutip
sebuah ayat dari Alqur’an. “Kalau tekadmu sudah bulat, maka bertawakalllah
kepada Allah”. Frman Allah ini benar-benar menyenth dan semakin memantapkan
tekat Sakti untuk segera berangkat dari kampung tercinta demi meraih masa depan
yang gemilang.
Februari 2006, adalah hari pertamaSakti tiba di pekanbaru. Bermodalkan
secuil pendidikan agama yang ia dapat di pesantren, ia ingin mencoba mengadu
keberuntungan disini. Beberapa menit setelah turun dari Bus Dolok Sordang,
Sakti bingung mau pergi kemana. Tak satu orang pun yang ia kenal di kota yang
begitu besar ini.
Sejenak ia menghilangkan capek dan penat setelah seharian
berada di dalam bus. Suara adzan ashar terdengar jelas di telinganya. Sakti segera
bergegas dan mencari dari masjid mana suara itu dikumandangkan. Ternyata setelah
berjalan sekitar seratus meter ke arah barat, Masjid Al Hikam pun ia temukan.
Setelah shalat ashar usai, aku memberanikan diri mengambil
mikrofon dan menceritakan ikhwal kedatanganku ke Pekanbaru. Walaupun beberapa
warga yang ikut shalat saat itu merasa aneh. Tapi baginya, hal itu menjadi
sebuah cara untuk bertahan hidup sebab tak siapapun yang ia kenal.
Mendengar penuturannya itu membuat para jama’agh prihatin dan
mengacungkan jempol atas keberanian itu. Hingga seorang warga membawa Sakti ke rumahnya
dan menjadikan ia sebagai anak angkatnya. Beliau pak Suwito, ketulusan hatinya
itu sangat benar-benar berjasa dalam mengantaran Sakti seperti saat sekarang
ini.
Pak Suwiti bukanlah seseorang yang memiliki harta yang
berlimpah. Beliau adalah seorang pedagang sayur di pasar Kodim dan memiliki
kios barang-barang kebutuhan harian di rumahnya. Dia belum dikarunia seorang
anak pun oleh Allah. Mungkin itu salah satu hal yang membuat dia tidak terlalu
diberatkan dengan kedatangan Sakti.
Suatu ketika, Skati pamit untuk tidak tinggal bersama mereka
lagi. Istri Pak Suwiti pun marah. Dia bilang Sakti tidak tahu diri. Tapi ,
Sakti tida pedulikan lagi kata-katanya. Karena tujuannya berkiprah ke pekanbaru
tidak lain untuk kuliah. Maslaah baru timbul lagi. Sakti tidak tahu harus ke
mana lagi.
Untungnya, dengan berjualan di pasar Kodim selama empat bulan
terakhir ini, Sakti punya beberapa teman. Sakti pu mendatangi mereka dan
menceritakan masalah yang sedang ia alami. Syukurnya, dengan senang hati mereka
menerimanya dan menawarkan sebuah pekerjaan baru untuknya.
Pekerjaan baru tidak lain adalah menjadi tukang parkir. Sakti pun
mengiyakan. Baginya apapun akan dilakukan selagi itu halal. Yang penting bisa
kuliah. Tanpa menunggu lama, suka dukasebagai tukang parkir pun ia tekuni. Penghasilan
yang ia dapatkan tidak lebih dari tigapuluh ribu perharinya. Sedangkan untuk
uang makan perhari saja bisa mencapai angka dua puluh ribu rupiah.
Angka yang tidak memunginkan untuk bisa mengantrakan mengenyam
pendidikan kampus yang selama ini ia impikan. Ditambah lagikerasnya kehidupan
pasar harus ia terima dengan lapang dada. Walau Sakti harus kerap kali
bertengkar dengan pengendara sepeda motor atau mobil yang enggan membayar biaya
parkir.
Berselang satu bulan menjadi seorang tukang parkir, Sakti
mulai tidak tahan. Disela-sela kekecewaannya, ia tidak bisa berpikir jernih. Keesokan
harinya, ketika waktu shalat zuhur tiba, Sakti segera menuju masjid. Sakti mulai
sadar bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepadaNya.
Setiabanya di masjid Sakti duduk di Shof paling depan karena
jamaah yang datang tidak banyak. Maklumlah, mungkin kebanyakan dari warga
sedang bekerja. Pengurus masjid yang biasanya mengumandangkan adzan juga tidak
datang. Maka, salah seorang warga yang datang menyuruh untuk bertindak sebagai
muadzin.
Sakti kaget. Walaupun ia pernah mengenyam pendidikan di
pesantren. Tapi, hal itu sudah lama tidak ia laukan. Akhirnya Sakti memberanikan
diri untuk mengumandangkan adzan tersebut. Dengan suara lantang adzan pun ia
kumandangkan. Air matanya pun sekali jatuh karena teringat terus nasib yang
sedang menimpanya.
Selesei shalat, ia masih duduk rapi di shaf tempat shalat tadi. Seorang laki-laki separuh
baya pun mengahmpirinya dan mengajaknya bercerita. Akhirnya ia ceritakan semua
kepada bapak tersebut apa yang sedang menimpa dirinya.
Ternyata tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Allah sebaik-baik
penolog. Hal yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Tujuan bapak tersebut
mengahmpirinya tadi adalah memintanya untuk tinggal di sebuah masjid di lingkungan rumah bapak
tersebut tinggal. Dia juga bilang, kalau Sakti bersedia tinggal di sana, maka
biaya awal kuliah akan ditanggung oleh pengurus masjid. Tanpa berpikir panjang,
tawaran itupun segera ia terima. Karena selama ini, yang sangat ia impikan
adalah bisa melanjutkan pendidikan.
Sumber: "Kisah Inspiratif Bocah-bocah Ajaib yang Mengubah Dunia" oleh Been Rafanany.
Hi..saya tertarik untuk mendapatkan buku "Kisah Inspiratif Bocah-bocah Ajaib yang Mengubah Dunia" oleh Been Rafanany. Saya cek d Gramedia dah habis. Bisa minta scan kn cerita di atas saja nggak ke alamat email saya (sakti_ahmad@yahoo.co.id). Thanks. Ceritanya menginspirasi. Salam Kenal ya.
BalasHapusRegards,
Ahmad Sakti Hasibuan