Kamis, 26 Desember 2013

CERPEN


Tanggal 27 Desember 2013
CINTA DALAM DIAM
Senyumnya begitu tenang, penuh dengan makna. Matanya pancarkan cahaya ketulusan hanya senyum yang memberikan banyak isyarat. Tampak kedewasaan dalam dirinya, berjalan tegap penuh makna. Dia sosok yang Aku dambakan, yang Aku inginkan menjadi pendamping hidupku, menemani sisa hidupku. Namun Aku hanya menyimpan rasa ini dalam hati tak seorang pun mengetahui hanya Maha Kuasa dan Aku yang tahu. Tak ku biarkan perasaan ini bocor oleh siapapun, orang tua pun tak ku biarkan mengetahuinya. Aku tak ingin terjadi untuk kedua kalinya, ketika Aku bercerita tentang seorang yang Aku kagumi ternyata sudah milik sah orang lain. Tak ku biarkan hatiku terluka lagi. Akan ku jaga hati ini, agar tidak mengundang luka untuk sekian kalinya.
Tengah malam telah menyapaku, langkah kakiku mengajak menyapa air yang begitu dingin. Namun kucoba menahannya, karena dengan menyapa air itu jalanku menuju RidhoMu. Kulantunkan permintaanku penuh harap, berharap sosok itu bisa menjadi sandaran hatiku kelak. Bisa menemani saat suka maupun duka sampai akhir. Kuusapkan tangan yang menengadah pada wajahku. Kuakhirkan sujudku dari tempat yang suci ini.
          Fajar menyusul menyapaku, segera Aku persiapkan diri bergegas masuk kampus. Ku tata bukuku sesuai jadwal dalam tas. Kurapikan pakaian dan hijab. Wajah agak dipoles sedikit. Sedikit memberi senyum pada kaca. Kupakai tas dengan tali panjang di pundak kanan. Samping tangan kiri dengan membawa buku tebal. Langkah kaki pun dimulai. Letak kampus dengan rumah tidak terlalu jauh, jalan kaki hanya sepuluh menit sudah sampai. Gedung kaca warna hijau, memliki tiga lantai itu fakultasku. Fakultas pendidikan. Aku belajar di lantai dasar jadi tidak bersusah payah untuk mendaki tangga. Sedangkan pujaan hatiku berada didepan fakultasku tempatnya. Fakultas kami berhadap-hadapan. Fakultasnya juga terdapat tiga lantai, tapi aku nggak tahu dia berada di lantai berapa. Sesekali kalau saya istirhat untuk keluar fakultas dekat taman. Aku duduk di tengah-tengah taman, untuk melihat dia meski hanya sekilas bisa sebagai pengobat mala rinduku padanya. Sudah lama aku mengaguminya hampir tiga semseter ini. Tapi aku menyembunyikan persaanku.
Hem biru, celana hitam, dengan tas rangsel di punggungnya dan sepatu pantofel warna hitam tak lupa menebar senyuman. Aku membayangkan, jika dia berada disampingku dan ngobrol bareng. Belum selesei lamunanku, ada yang mengganggu. Hampir emosi saya, upps saya tahan. Ternyata pangeranku.
“Boleh saya duduk di sini?”. Dengan perasaan gugup saya hanya menganggukkan kepala.
“Kamu sering ya di taman ini”. Ternyata dia juga sering melihatku, aku nggak percaya.
“Iya, terkadang saya kalau lagi istirahat main ke taman ini”.
“Kamu suka baca buku ya, setiap kali saya melihat taman ini, selalu ada kamu dan bukumu”.
“Iya, saya suka satra, jadi terkadang sehari bisa menghabiskan tiga novel”, jawab Rosa sambil menulis puisi tanpa menatap rangga cowo yang dikaguminya selama ini karena gugup.
“Oya, Aku masuk dulu ya,, udah jam masuk lagi ne. bye”, Rosa mueninggalkan Rangga dengan terburu-buru karena gugup. Rangga hanya mengganggukkan kepala sambil tersenyum. Selembar kertas berwarna merah jambu tertingal di tempat duduk Rosa tadi. Rangga kemudian mengambilnya, dan membaca tulisan itu.
Berlapis hem biru,tertata rapi
Pantofel hitam setia menemaninya
Rangsel yang selalu setia, pangeranku
Senyum yang selalu menghiasi setiap langkahmu
Rangga tersenyum kemudian melipat kertas berwarna merah jambu tadi dan dimasukkan ke dalam tas ranselnya, kemudian pergi.
***
Rosa yang sudah sampai kelas, mencoba membuka syair yang ditulisnya. Dia cari-cari di sudut tasnya, tetap tidak ditemukan secraik kertas merah jambu tadi. Nampak kebingungan. Beberapa jam setelah jam selesei, langsung menuju taman tadi. Ternyata tak menemukan kertasnya tadi, dan pasrah.
Seperti biasa Rosa selalu duduk di taman depan fakultasnya dan melihat sosok itu lagi. Hati rasanya seribu kebahagiaan telah mengahmpirinya. Lalu menorehkan tinta hitam pada secarik kertas yang dibawanya, untuk menggambarkan sosok itu melalui syair indah yang kemudia disimpan dalam diarynya. Waktu sudah menunjukkan sore hari, waktunya untuk pulang.
Sesampai di rumah ibunya berkata “Nduk, besok ita kedatangan tamu. Tolong semua kegiatanmu dibatalkan dulu, dan kamu jangan keluar”.
Mendengar perkataan ibunya, Rosa langsung keluar kamar dan langsung menghampiri ibunya di dapur. “Ibu, memangnya kita kedatangan tamu dari mana. Ko mendadak gini?”, sambil membantu ibunya di dapur.
“Tamu ini datang dari desa tetangga, yang ingin bertemu dengan kamu?”
“Dengan Saya?, untuk apa bu?”, Rosa tercengang. Ibunya hanya tersenyun kemudian berlalu. Sementara Rosa masih tercengang, dan kebingungan. Dan dia melihat disekelilingnya terdapat banyak makanan untuk acara besok. Dan ada salah satu makanan sebagai ciri khas untuk menjamu tamu saat lamaran di daerahnya. Rosa pun bertanya dalam hati, siapa yang akan dilamar. Padahal dia anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara. Kalau bukan dia siapa lagi. Kedua kakaknya sudah menikah semua. “Kalau Aku yang dilamar, lantas dengan siapa?”, berbicara dalam hati.
Rosa langsung menuju kamar, sambil membuka syair-syair yang selama ini dia tulis. Dengan mata yang berlinang. Teringat tentang pria yang dikaguminya, jika dia akan dilamar orang lain, dia sudah tak dapat melihatnya lagi. Lembaran awal syair dia baca, membolak-baik kertas menuju halaman berikutnya sambil bernostalgia ketika melihatnya dengan jarak jauh sambil berlinang air mata. Satu jam telah berlalu, dia pun terlelap tidur.

***
Pagi hari telah menyapa Rosa. Dengan hati yang sangat kebingungan, dia pun masih sempat membantu ibunya. Dia mencoba menghargai ibunya. Menyiapkan makanan untuk di taruh diruang tamu dan juga ruang makan. Selang beberapa jam kemudian, terdengan bel mobil. Setelah ibunya mengintip dari jendela, ternyata tamunya sudah datang. Kemudin mereka bergegas di ruang tamu. Rosa mengikuti ibunya di belakang. Lalu pintunya di buka, rosa sambil menutup mata dan berdoa berharap ini adalah jalan terbaik bagi hidupnya. Ketika pintu sudah terbuka, nampaklah kedua orang tua dan satu anak laki-laki muda di belakangnya. Rosa pun membuka mata, dan sungguh tak terduga dialah Rangga yang selama ini ia kaguminya.
Kedua keluarga sepakat untuk besanan, begitu juga dengan Rosa bersedia untuk mendampingi Rangga saat susah maupun senang.
“inilah jawaban dariMu Tuhan, engkau telah menemukan tulang rusukku”
‘Dalam diamku, terdapat cintaku padamu’







                                                                                                                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar