Tanggal 27 Desember 2013
CINTA
DALAM DIAM
Senyumnya
begitu tenang, penuh dengan makna. Matanya pancarkan cahaya ketulusan hanya
senyum yang memberikan banyak isyarat. Tampak kedewasaan dalam dirinya,
berjalan tegap penuh makna. Dia sosok yang Aku dambakan, yang Aku inginkan
menjadi pendamping hidupku, menemani sisa hidupku. Namun Aku hanya menyimpan
rasa ini dalam hati tak seorang pun mengetahui hanya Maha Kuasa dan Aku yang
tahu. Tak ku biarkan perasaan ini bocor oleh siapapun, orang tua pun tak ku
biarkan mengetahuinya. Aku tak ingin terjadi untuk kedua kalinya, ketika Aku
bercerita tentang seorang yang Aku kagumi ternyata sudah milik sah orang lain.
Tak ku biarkan hatiku terluka lagi. Akan ku jaga hati ini, agar tidak
mengundang luka untuk sekian kalinya.
Tengah
malam telah menyapaku, langkah kakiku mengajak menyapa air yang begitu dingin.
Namun kucoba menahannya, karena dengan menyapa air itu jalanku menuju RidhoMu.
Kulantunkan permintaanku penuh harap, berharap sosok itu bisa menjadi sandaran
hatiku kelak. Bisa menemani saat suka maupun duka sampai akhir. Kuusapkan
tangan yang menengadah pada wajahku. Kuakhirkan sujudku dari tempat yang suci
ini.
Fajar menyusul menyapaku, segera Aku
persiapkan diri bergegas masuk kampus. Ku tata bukuku sesuai jadwal dalam tas.
Kurapikan pakaian dan hijab. Wajah agak dipoles sedikit. Sedikit memberi senyum
pada kaca. Kupakai tas dengan tali panjang di pundak kanan. Samping tangan kiri
dengan membawa buku tebal. Langkah kaki pun dimulai. Letak kampus dengan rumah
tidak terlalu jauh, jalan kaki hanya sepuluh menit sudah sampai. Gedung kaca
warna hijau, memliki tiga lantai itu fakultasku. Fakultas pendidikan. Aku
belajar di lantai dasar jadi tidak bersusah payah untuk mendaki tangga.
Sedangkan pujaan hatiku berada didepan fakultasku tempatnya. Fakultas kami
berhadap-hadapan. Fakultasnya juga terdapat tiga lantai, tapi aku nggak tahu
dia berada di lantai berapa. Sesekali kalau saya istirhat untuk keluar fakultas
dekat taman. Aku duduk di tengah-tengah taman, untuk melihat dia meski hanya
sekilas bisa sebagai pengobat mala rinduku padanya. Sudah lama aku mengaguminya
hampir tiga semseter ini. Tapi aku menyembunyikan persaanku.
Hem biru,
celana hitam, dengan tas rangsel di punggungnya dan sepatu pantofel warna hitam
tak lupa menebar senyuman. Aku membayangkan, jika dia berada disampingku dan
ngobrol bareng. Belum selesei lamunanku, ada yang mengganggu. Hampir emosi
saya, upps saya tahan. Ternyata pangeranku.
“Boleh
saya duduk di sini?”. Dengan perasaan gugup saya hanya menganggukkan kepala.
“Kamu
sering ya di taman ini”. Ternyata dia juga sering melihatku, aku nggak percaya.
“Iya,
terkadang saya kalau lagi istirahat main ke taman ini”.
“Kamu
suka baca buku ya, setiap kali saya melihat taman ini, selalu ada kamu dan
bukumu”.
“Iya,
saya suka satra, jadi terkadang sehari bisa menghabiskan tiga novel”, jawab
Rosa sambil menulis puisi tanpa menatap rangga cowo yang dikaguminya selama ini
karena gugup.
“Oya,
Aku masuk dulu ya,, udah jam masuk lagi ne. bye”, Rosa mueninggalkan Rangga
dengan terburu-buru karena gugup. Rangga hanya mengganggukkan kepala sambil
tersenyum. Selembar kertas berwarna merah jambu tertingal di tempat duduk Rosa
tadi. Rangga kemudian mengambilnya, dan membaca tulisan itu.
Berlapis
hem biru,tertata rapi
Pantofel
hitam setia menemaninya
Rangsel
yang selalu setia, pangeranku
Senyum
yang selalu menghiasi setiap langkahmu
Rangga
tersenyum kemudian melipat kertas berwarna merah jambu tadi dan dimasukkan ke
dalam tas ranselnya, kemudian pergi.
***
Rosa
yang sudah sampai kelas, mencoba membuka syair yang ditulisnya. Dia cari-cari
di sudut tasnya, tetap tidak ditemukan secraik kertas merah jambu tadi. Nampak
kebingungan. Beberapa jam setelah jam selesei, langsung menuju taman tadi. Ternyata
tak menemukan kertasnya tadi, dan pasrah.
Seperti
biasa Rosa selalu duduk di taman depan fakultasnya dan melihat sosok itu lagi. Hati
rasanya seribu kebahagiaan telah mengahmpirinya. Lalu menorehkan tinta hitam
pada secarik kertas yang dibawanya, untuk menggambarkan sosok itu melalui syair
indah yang kemudia disimpan dalam diarynya. Waktu sudah menunjukkan sore hari,
waktunya untuk pulang.
Sesampai di rumah ibunya berkata “Nduk, besok
ita kedatangan tamu. Tolong semua kegiatanmu dibatalkan dulu, dan kamu jangan
keluar”.
Mendengar perkataan ibunya, Rosa langsung
keluar kamar dan langsung menghampiri ibunya di dapur. “Ibu, memangnya kita
kedatangan tamu dari mana. Ko mendadak gini?”, sambil membantu ibunya di dapur.
“Tamu ini datang dari desa tetangga, yang ingin
bertemu dengan kamu?”
“Dengan Saya?, untuk apa bu?”, Rosa tercengang.
Ibunya hanya tersenyun kemudian berlalu. Sementara Rosa masih tercengang, dan
kebingungan. Dan dia melihat disekelilingnya terdapat banyak makanan untuk
acara besok. Dan ada salah satu makanan sebagai ciri khas untuk menjamu tamu
saat lamaran di daerahnya. Rosa pun bertanya dalam hati, siapa yang akan
dilamar. Padahal dia anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara. Kalau bukan
dia siapa lagi. Kedua kakaknya sudah menikah semua. “Kalau Aku yang dilamar,
lantas dengan siapa?”, berbicara dalam hati.
Rosa langsung menuju kamar, sambil membuka
syair-syair yang selama ini dia tulis. Dengan mata yang berlinang. Teringat tentang
pria yang dikaguminya, jika dia akan dilamar orang lain, dia sudah tak dapat
melihatnya lagi. Lembaran awal syair dia baca, membolak-baik kertas menuju
halaman berikutnya sambil bernostalgia ketika melihatnya dengan jarak jauh
sambil berlinang air mata. Satu jam telah berlalu, dia pun terlelap tidur.
***
Pagi hari telah menyapa Rosa. Dengan hati yang
sangat kebingungan, dia pun masih sempat membantu ibunya. Dia mencoba
menghargai ibunya. Menyiapkan makanan untuk di taruh diruang tamu dan juga
ruang makan. Selang beberapa jam kemudian, terdengan bel mobil. Setelah ibunya
mengintip dari jendela, ternyata tamunya sudah datang. Kemudin mereka bergegas
di ruang tamu. Rosa mengikuti ibunya di belakang. Lalu pintunya di buka, rosa
sambil menutup mata dan berdoa berharap ini adalah jalan terbaik bagi hidupnya.
Ketika pintu sudah terbuka, nampaklah kedua orang tua dan satu anak laki-laki
muda di belakangnya. Rosa pun membuka mata, dan sungguh tak terduga dialah
Rangga yang selama ini ia kaguminya.
Kedua keluarga sepakat untuk besanan, begitu
juga dengan Rosa bersedia untuk mendampingi Rangga saat susah maupun senang.
“inilah jawaban dariMu Tuhan, engkau telah
menemukan tulang rusukku”
‘Dalam diamku,
terdapat cintaku padamu’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar