Jumat, 20 Desember 2013

INSPIRASI


Tanggal 21 Desember 2013
Ahmad Sakti Hasibuan
Tukang Parkir Kuliah

Cerita ini bermula dari seketika Saktu baru saja meluluskan pendidikan di Madrasah Aliyah Darul Falah Langgapayung. Sebuah pesantren ternama di kabupaten Labuhan batu. Sebagai seorang santri yang baru saja lulus, melanjutan pendidikan agama ke jenjang yang lebih tinggi sudah menjadi imipan Sakti hingga kelak bisa menjadi panutan kepada masyarakat secara umum dan keluarga khususnya. Namun dari segi kondisi keuangan keluarga yang morat-marit, Sakti tidak begitu yakin kalau niatnya akan kesampaian.
Hampir sebulah setelah aku kembali bersama keluarga, ayah dan ibunya belum pernah seklaipun menyinggung persoalan kearah itu. Sakti sendiri tidak mau mengungkitnya. Takut kalau hal itu akan membuat ayah dan ibu bersedih dan berkecil hati. Namun, satu malam seusai shalat isya Sakti memberanikan diri bercerita kepada ayahnya untuk menunda kuliah dengan alasan alau ia ingin membantu ayah bekerja dulu.

Sempat terjadi perdebatan kecil dengan ayahnya. Ayahnya sempat bilang, “Apapun ceritanya kamu harus kuliah!” Ayahnya optimisSakti harus kuliah tahun ini. Walaupun sebenarnya harapan itu sangat kecil jika dilihat dari segi keuangan keluarga.
Kebetulan atau tidak, keesokan harinya, Ibu Kuma, kepala sekolah SD Negeri yang letakkya tepat dibelakang rumah Sakti datang ke rumah. Bu Kuma memintanya untuk mengajar di SD tersebut karena mereka lagi kekurangan tenaga pengajar. Di luar dugaan, ternyata ayahnya tidak mengizinkan untuk mengajar dengan alasan akhir bulan ini, Sakti harus berangkat ke medan untuk mendaftar kuliah.
Entah dari mana sang Ayah mendapat ide tersebut. Padahal saat itu pendaftaran SPMB sudah tutupu. Bahkan pendaftaran ujian lokal ke IAIN pun sudah tinggal beberapa hari lagi. Kalau ayahnya bilang ia akan berangkat ke Medan akhir bulan ini, itu meruapakan hal yang sia-sia. Tapi, itulah ayah Sakti. Semangatnya begitu tinggi agar anak-anaknya melanjutkan sekolah.
Berselang tiga bulan Sakti mengajar di SD biasanya guru komite seperti Sakti akan mendapatkan gaji atas pengabdian selama tiga bulan ini. Niatnya akan memberikan separuh dari gaji yang diterima kepada ayah dan ibunya sudah bulat. Sedangkan selebinya akan ia gunakan untuk keperluan pribadi dan membeli pupuk untuk pertanian cabe yang sedang ia tekuni.
Bagi Sakti, mengajar di SD adalah salah satu cara untuk menghilangkan rasa iba terhadap diri sendiri kerena belum bisa segera kuliah. Tapi ia harus berhenti mengajar karena masalah tertentu. Motivasinya untuk kuliah juga turun drastis.
Keadaan pun berbalik. Kalau selama iniSakti bertahan untuk tinggal di kampung karena ada aktivitas mengajar yang bisa meredam keinginan utuk kuliah, sekarang aktivitas mengajar sudah berhenti. Kebosanan mulai mengahmpirinya. Sakti sudah tidak betah. Niatpun dibulatan untuk mencari hembusan angin cerah dengan mengadu nasib ke kota.
Nasehat Ustadzah H. Ramli masih terus diingat. Beliau mengutip sebuah ayat dari Alqur’an. “Kalau tekadmu sudah bulat, maka bertawakalllah kepada Allah”. Frman Allah ini benar-benar menyenth dan semakin memantapkan tekat Sakti untuk segera berangkat dari kampung tercinta demi meraih masa depan yang gemilang.
Februari 2006, adalah hari pertamaSakti tiba di pekanbaru. Bermodalkan secuil pendidikan agama yang ia dapat di pesantren, ia ingin mencoba mengadu keberuntungan disini. Beberapa menit setelah turun dari Bus Dolok Sordang, Sakti bingung mau pergi kemana. Tak satu orang pun yang ia kenal di kota yang begitu besar ini.
Sejenak ia menghilangkan capek dan penat setelah seharian berada di dalam bus. Suara adzan ashar terdengar jelas di telinganya. Sakti segera bergegas dan mencari dari masjid mana suara itu dikumandangkan. Ternyata setelah berjalan sekitar seratus meter ke arah barat, Masjid Al Hikam pun ia temukan.
Setelah shalat ashar usai, aku memberanikan diri mengambil mikrofon dan menceritakan ikhwal kedatanganku ke Pekanbaru. Walaupun beberapa warga yang ikut shalat saat itu merasa aneh. Tapi baginya, hal itu menjadi sebuah cara untuk bertahan hidup sebab tak siapapun yang ia kenal.
Mendengar penuturannya itu membuat para jama’agh prihatin dan mengacungkan jempol atas keberanian itu. Hingga seorang warga membawa Sakti ke rumahnya dan menjadikan ia sebagai anak angkatnya. Beliau pak Suwito, ketulusan hatinya itu sangat benar-benar berjasa dalam mengantaran Sakti seperti saat sekarang ini.
Pak Suwiti bukanlah seseorang yang memiliki harta yang berlimpah. Beliau adalah seorang pedagang sayur di pasar Kodim dan memiliki kios barang-barang kebutuhan harian di rumahnya. Dia belum dikarunia seorang anak pun oleh Allah. Mungkin itu salah satu hal yang membuat dia tidak terlalu diberatkan dengan kedatangan Sakti.
Suatu ketika, Skati pamit untuk tidak tinggal bersama mereka lagi. Istri Pak Suwiti pun marah. Dia bilang Sakti tidak tahu diri. Tapi , Sakti tida pedulikan lagi kata-katanya. Karena tujuannya berkiprah ke pekanbaru tidak lain untuk kuliah. Maslaah baru timbul lagi. Sakti tidak tahu harus ke mana lagi.
Untungnya, dengan berjualan di pasar Kodim selama empat bulan terakhir ini, Sakti punya beberapa teman. Sakti pu mendatangi mereka dan menceritakan masalah yang sedang ia alami. Syukurnya, dengan senang hati mereka menerimanya dan menawarkan sebuah pekerjaan baru untuknya.
Pekerjaan baru tidak lain adalah menjadi tukang parkir. Sakti pun mengiyakan. Baginya apapun akan dilakukan selagi itu halal. Yang penting bisa kuliah. Tanpa menunggu lama, suka dukasebagai tukang parkir pun ia tekuni. Penghasilan yang ia dapatkan tidak lebih dari tigapuluh ribu perharinya. Sedangkan untuk uang makan perhari saja bisa mencapai angka dua puluh ribu rupiah.
Angka yang tidak memunginkan untuk bisa mengantrakan mengenyam pendidikan kampus yang selama ini ia impikan. Ditambah lagikerasnya kehidupan pasar harus ia terima dengan lapang dada. Walau Sakti harus kerap kali bertengkar dengan pengendara sepeda motor atau mobil yang enggan membayar biaya parkir.
Berselang satu bulan menjadi seorang tukang parkir, Sakti mulai tidak tahan. Disela-sela kekecewaannya, ia tidak bisa berpikir jernih. Keesokan harinya, ketika waktu shalat zuhur tiba, Sakti segera menuju masjid. Sakti mulai sadar bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepadaNya.
Setiabanya di masjid Sakti duduk di Shof paling depan karena jamaah yang datang tidak banyak. Maklumlah, mungkin kebanyakan dari warga sedang bekerja. Pengurus masjid yang biasanya mengumandangkan adzan juga tidak datang. Maka, salah seorang warga yang datang menyuruh untuk bertindak sebagai muadzin.
Sakti kaget. Walaupun ia pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tapi, hal itu sudah lama tidak ia laukan. Akhirnya Sakti memberanikan diri untuk mengumandangkan adzan tersebut. Dengan suara lantang adzan pun ia kumandangkan. Air matanya pun sekali jatuh karena teringat terus nasib yang sedang menimpanya.
Selesei shalat, ia masih duduk rapi di shaf  tempat shalat tadi. Seorang laki-laki separuh baya pun mengahmpirinya dan mengajaknya bercerita. Akhirnya ia ceritakan semua kepada bapak tersebut apa yang sedang menimpa dirinya.
Ternyata tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Allah sebaik-baik penolog. Hal yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Tujuan bapak tersebut mengahmpirinya tadi adalah memintanya untuk tinggal  di sebuah masjid di lingkungan rumah bapak tersebut tinggal. Dia juga bilang, kalau Sakti bersedia tinggal di sana, maka biaya awal kuliah akan ditanggung oleh pengurus masjid. Tanpa berpikir panjang, tawaran itupun segera ia terima. Karena selama ini, yang sangat ia impikan adalah bisa melanjutkan pendidikan.

Sumber: "Kisah Inspiratif Bocah-bocah Ajaib yang Mengubah Dunia" oleh Been Rafanany.

1 komentar:

  1. Hi..saya tertarik untuk mendapatkan buku "Kisah Inspiratif Bocah-bocah Ajaib yang Mengubah Dunia" oleh Been Rafanany. Saya cek d Gramedia dah habis. Bisa minta scan kn cerita di atas saja nggak ke alamat email saya (sakti_ahmad@yahoo.co.id). Thanks. Ceritanya menginspirasi. Salam Kenal ya.

    Regards,

    Ahmad Sakti Hasibuan

    BalasHapus