Senin, 25 November 2013

Cerpen

SANDARAN HATI YANG SEMU
Aku Fika mahasiswa yang hobi sekali dengan dunia fotografer. Setiap kali ada kegiatan kamera tak lepas dari genggaman tanganku. Aku lebih suka mengambil gambar yang nuansa hijai segar, ya seperti tumbuhan, pohon dan sesuatu yang alami. Sekarang Aku ikut kegiatan pers di kampus dan Aku memilih bagian design grafis dan juga fotografrer. Dengan Aku mengikuti ini, hobi ku dapat tersalurkan. Hem, jadi seorang fotografer itu menurutku sangat menyenangkan dan juga sangat menantang. Pernah suatu hari, Aku sedang meliput taruhan antar mahasiswa yang sedang lempar-lemparan kulit pisang. Dan ternyata, kamera dan juga wajahku yang menjadi korban juga. Wah wah ternyata aksi lemparan itu tidak pandang bulu juga. Tidak apa, untuk mendapat hasil yang baik memang harus terjun ke lokasi. Tapi Aku sangat menikmati itu semua. Sekarang Aku sudah semester tujuh, sudah senior hehe. Saatnya memulai serius untuk masa depan hehe.
***
Hari ini Aku bagaikan orang yang paling bahagia di dunia. Tak ku sangka semua datang begitu cepat. Hati terasa dibalut bunga yang sangat harum, tenang bagaikan air yang sedang mengalir. Senyum tipis menghiasi bibir, gairah hidup semakin tinggi. Bunga yang layu kini mengikuti keadaanku sekarang yang sedang bahagia karena cinta pertama dan semoga cinta terakhir. Tak kusangka ternyata dia juga menyimpan perasaan yang sama. Aku hanya bisa terdiam melihat itu, hanya bisa mengualang kata-kata yang telah dibisikkan padaku. Mencoba untuk menolak saat itu, hati tidak bisa. Tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Aku yakin yang Aku dapat ini adalah pencarian yang terakhir. Tak ada ragu dalam hati yang Aku rasa. Sungguh luar biasa yang kurasa, selama ini tak pernah kurasa sebelumnya. Hampir setiap detik, selalu mendapat kasih sayang drainya. Hati semakin yakin dia adalah sehidup semati dalam hidupku. Aku jalani hari-hariku, dengan penuh kasih sayang dan senyum yang mentelimuti hati. Tangan serasa ingin mengayun bagaikan merpati yang bebas terbang ke udara. Kaki melangkah dengan ringan seiring dengan senyumku.
Tak pernah sebelumnya mendapat kasih sayang seperti ini. Dia yang paling mengerti aku. Dia yang paling setia. Tak pernah bohong dan selalu bilang kalau mau pergi jauh. Hari-hari selalu aku lewati dengannya. Bahagia bersama, saling berbagi kasih sayang, saling berbagi cerita dan berbagi menceritakan segala kekurangan kami. Kita menjadi saling menerima, dan juga saling memahami.

“sayang, aku sedang mengambil beasiswa ke luar negeri dan pengumannya besok”
“kemana sayang?”, Fika.
“ke swis”, dengan berat hati dia mengatakan pada Fika. Tak sanggup untuk berpisah dengan Fika yang selama ini selalu bersamanya. Mendengar hal itu Fika, sangat tersentak hatinya dan hatinya menjadi kalut. Tak seperti biasanya. Hati tersa menjadi sanagt layu dan di dalam hati hanya bisa merasakan kepahitan. Rasa manis pun tak ada ruang dalam hati Fika. Hanya pikiran negatif menyelimuti hati Fika. Takut kan kehilangan orang yang dicintainya, takut kehilangan cintanya, takut sudah tidak bisa bertemu lagi untuk bersamanya. Membuat airmata Fika tak dapat terbendung. Kekasihya mencoba untuk menghiburnya, mencoba memberi pengertian kepada Fika, bahwa apa yang ada di pikiran Fika tidak akan terjadi. Dia akan selalu menyayangi Fika sebagaimana mereka menjalani hari-harinya dengan penuh kaish sayang. Fika pun mulai mnegerti, dan bisa menerima keputusan dari kekasihnya itu.
Keesokan harinya lagi Fika mengantarkan kekasihnya di Bandara, bersama keluarga kekasihnya. Saat berpamitan Fika mengatakan sesuatu padanya “Aku akan menunggumu disini, Aku akan kubuktikan bahwa sayangku hanya untukmu”. Lalu mereka berpisah dan sudah tak dapat menjalani hari-hari bersama lagi.
***
Rasa ini kembali layu. Hari ini kemabali sunyi, tanpa ada belahan jiwa. Rasa khawatir kembali menyelimuti hati Fika. Gelisah selalu diarasa. Karena kekasihnya sejak saat itu tak memberi kabar sama sekali. No Hp tidak aktif ketika dihubungi. Membuat rasa khawtir dan juga curiga semakin menjadi. Mencoba mendtangi rumah keluarga yang masih ada di Indonesia ternyata keluarganya sudah pindah. Fika sepertinya telah kehilangan arah. Kehilanagn harapan. Tapi rasa setia seprti yang telah dijanjikannya dulu masih melekat dihatinya. Terkadang sedikit memberi kenyamanan pada hati Fika, bahwa suatu saat dia pasti akan kembali pada Fika. Dan membina rumah tangga. Namun harapan untuk dihubungi pupus sudah.
Untuk menghilangkan rasa kesepiannya Fika menjalani aktivitasnya dengan kamera kesayangannya. Kembali denagan rekan kerjanya. Sekarang Fika sudah lulus, selain itu dia mendapt gelar fotografer handal. Sering dipanggil dalam acara-acara resmi, seperti hari kemerdekaan, acara nikahan dan masih bnayak lagi. Karyanya sudah banyak dimuat dalam majalah, koran dan juga pernah menjuarai lomba dalam lomba fotografer tentang alam. Kebetulan dia sangat suka sekali dengan yang alami. Hasil semua fotonya pun sangat indah. Tanpa ada rekayasa sama sekali. Penuh makna dalam setiap potretnya. Mengandung makna yang tersirat didalamnya. Seakan hanya Fika yang tahu. Dengan kegiatan itu Fika bisa sedikit demi sedikit bisa melupakan sejenak kekasihnya itu. Tapi bukan berarti melupakan selamanya. Dia masih memegang janji yang telah terucap, dan masih menunggu kedatangan sang pujaan hatinya.
Keesokan harinya, Fika mendapat kabar yang sangat gembira. Karena diminta untuk datang ke acara pernikahan seorang anak terpandang yang berada di bandung. Baginya ini adalah suatu kehormatan yang belum didapat sebelumnya. Fika mau menerimnya. Dam Fika akan mengajak teman dekatnya untuk menemani perjalanannya. Senyum manis menghiasi bibir Fika, membuat temanya tidak merasa gelisah lagi. Selama perjalanan Fika bercerita dengan temannya itu dinda, berkhayal suatu saat bisa menikah dengan pujaan hatinya yang saat ini masih dia rindukan. Membayangkan banyak orang yang hadir di hari bahagianya, saudara, teman-temannya termasuk Dinda. Kamu nanti harus datang ya, di hari pernikahanku. Bawakan aku kado yang sangat besar. Sambil membentangkan tangnnya lebar-lebar, hingga menabrak wajah Dinda. Wah Fika, kamu ini,,oke. Nanti jangn lupa juga aku beri menu yang banyak khusus buat aku. Sambil membentangkan tangnnya hingga menabrak wajah Fika. Mereka berdua saling berbagi canda tawa  ketika mau menuju ke tempat lokasi.
Mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Mereka berdua heran tempat ini rame banget. Din, kalau aku menikah nanti sebanyak ini gak ya orangnya. Toengg,,tergantung amal dan perbuatan Fika. Waw..sahut Fika. Ketika melewati pintu masuk, Dinda membaca tulisan yang ada di depannya. Romi Hermawan dan Reni Zahrani. Mendengar itu Dinda dan juga Fika ketika mendengarnya tersentak kaget. Dinda memandangi Fika, sambil menenangkan Fika, sudah bukan Romi kamu ki Fik. Tenang saja, dia masih setia padamu. Senyum masam yang diberikan Fika, yang penuh dengan persaan hati yang tida tenang. Tak lama kemudian acar segera dimulai. Fika memulai aksinya yang lincah. Setiap posisi yang ada di depannya segera ia bidik. Dinda bertugas membawa peralatannya Fika. Setiap celah, setiap gerakanyang menurut dia bagus langsung segere dibidik. Seperti tak mau kecolongan. Lima menit lagi, pengantin akan segera menuju tempat pesta pernikahan. Fika dan juga Dinda sudah tak sabar untuk segera melihat kedua mempeleinya. Hati berdetak pada Fika. Segera maju kedepan, dan mulai menyiapkan kameranya. Dinda selalu dibelakangnya. Kemudian pengantinnya datang.
Mata fika dan juga Dinda merasa tak percaya. Apa yang dilihat apakah benar. Tapi takdir tak dapat diubah. Yang terjadi memang harus terjadi. Meski air mata yang akan datang. Dinda mencoba menenangkan Fika. Buktikan kamu fotografer yang profesional, buktikan karyamu pasti kamu bisa. Jangan terpengaruh akan keadaan. Fika menangguk, denagn menahan air mata yang sempat jatuh. Merasa teiris, ketika pemasangan cincin dan janji sehidup semati. Fika merasa tertimpa batu besar. Tapi bisa menahan hatinya. Tapi syukur dia bisa menahan marahnya, tak mau merusak hari kebahagiaan orang lain. Tugasku sudah selesei din, ayo kita angkat kaki dari tempat ini. Meratapinasib yang tak kunjung tiba. Air susu dibalas denag air tuba. Kamu gak mau ngucapin selamat ke dia. Buat apa, din memberi selamat pada penghianat seperti dia. Patutkah itu. Fika saya tahu keadaanmu sekarang, tapi kamu juga pernah kenal dia. Sudahlah hilangkan rasa itu, saatnya sekarang menjadi pemenang. Oke. Lalu mereka menyalami penagntin itu, kemudian Romi tersentak kaget. Dan sangat merasa bersalah kaena telah pindah ke lain hati untuk selamanaya. Senyum masam yang bisa dikeluarkan dari bibir Fika. Dan juga berkata, selamat dan semoga bisamenjaga kesetiaan. Lalau Fika langsung pergi dan berpamitan kepada orang-orang yang berada disitu termasuk kedua orangtua mempelai.
“Cinta  itu kalau dijaga sekuat apapun, kalau memang bukan jodohnya ya harus ditrima”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar