Senin, 25 November 2013

Bebagi..


Berlari Menju AMBISI

Oleh: Siti Nurjannah*)
Letih, capek, lemas menjadi satu. Terasa lemas badan ini, tidak kuat untuk melangkah. Kaki tersa berat, dan semakin berat. Itu yang Aku rasakan saat berjuang untuk bisa menjadi anggota AMBISI. Beribu langkah yang Aku tempuh, hampir tak mengenal waktu untuk merebahkan badan. Mata tak bisa tertutup dengan tenang, badan tak bisa istirahat dengan tenang. Bunga tidur yang selalu menemani tidurku, dengan dua warana. Hitam dan putih. Akankah Aku mendaptkan yang putih itu atau yang hitam. Waktu demi waktu, terbayang akan masa depanku. Aku harus bagaimana, kerja atau mengais ilmu. Berharap Aku bisa untuk mengais ilmu, kendala bagiku adalah duit. “yah, inilah nasib orang yang tidak berduit. Mungkin Aku akan mengais uang dari pada menagis ilmu. Terkadang Aku berfikir, apakah sampai disini Aku mengenal bangku ilmu, apakah sampai disini Aku bertemu dengan seorang pengajar”, kata Haris. Lamunan yang setiap hari menemani Haris, meratapi nasib yang belum menentu. Hari demi hari terasa gelap, gelap dan gelap .“Seakan tidak ada yang melirik orang sepertiku. Apa mungkin Aku terlalu miskin. Apa mungkin Aku terlalu lemah. Ah entahlah..”, keluh Haris. Hari demi hari keadaan semakin gelap, gelap dan gelap. Tak tau arah mana yang akan ditempuh. Hari demi hari, Haris hanya bisa berharap Dia bisa menuntut ilmu. Berharap, bisa bertemu dengan pengajar. Berharap bisa bertemu dengan barbagai macam llmu, dan banyak teman dari berbagai daerah se-Nusantara.Ternyata itu semua tidak hanya sekedar fatamorgana. Ternyata cahaya itu memang benar ada. Hari-hari yang tadi gelap sekarang menjadi terang. Seakan terbangun dari mimpi-mimpi yang membuat resah setiap waktu. Aku terbangun dari lamunanku, kaki sudah mau diajak melangkah. Rasa letih, lemas dan capek akhirnya sudah terbayarkan. Tak perlu Aku menunggu dilirik orang untuk dibaiyai dalam menuntuk ilmu. Tak perlu Aku merengek-rengek pada orangtua yang rasanya tidak mungkin mereka bisa. Malah akan menjadi beban mereka. Bintang terlihat terang saat semua terjawab. Hari-hariku seakan semakin berarti. Aku tidak akan ketinggalan dengan teman-temanku yang mayoritas mereka berduit. Aku bisa meraih cita-citaku yang hampir terpendam, yang hampir tak akan Aku gapai. Tangisan keluarga yang tak percaya semua ini akan terjdi pada ku. Yang tak percaya, bahwa Aku akan melanjutkan langkahku mencari ilmu. Aku pun juga begitu, seakan tidak percaya bahwa  Aku akan menerima beasiswa yang selama ini Aku ingin meraihnya. Ternyata itu sudah berada di genggaman tangan ku. Ternyata Tuhan tak pernah tidur, tak pernah tutup telinga, tak pernah diam untuk hambanya yang Ia cintai. Rasa syukur dalam hati ku panjatkan. Akhirnya Aku terpilih sebagai peserta di salah satu beasiswa. “oh, Tuhan ini adalah jawaban dari semua tanyaku, terimakasih. Aku harap bisa menjalankan perintahku. Amiin”. Tak di sangka, akhirnya haris bertemu dengan banyak teman di perguruan tinggi-Nya yang awalnya senasib dengan dirinya. Sama-sama dari keluarga kurang mampu, dan punya niat untuk mengais ilmu. Akhirnya Haris dengan semua temannya dikumpulkan dengan kakak-kakak senior yang juga mendapat beasiswa seperti Haris.pertemuan itu dinamakan PENABARA (Pengenalan Anggota Baru Ambisi). Dalam perkumpulan itu mereka diperkenalkan pada dengan keluarga barunya dengan nama AMBISI kepanjangan dari Aliansi Mahasiswa Bidik Misi. Sungguh gembira sekali hati Haris, serasa ini adalah mimpi belaka. Berkumpul dengan orang yang senasib.“AMBISI, ya ini adalah keluarga ke dua ku setelah keluarga rumah. Aku merasa bahagia, nyaman dan serasa Aku mendapat orang-orang yang sayang padaku. AMBISI memberi warna baru bagi hidupku. Memberikan semangat hidupku yang hampir kelam”, bisik Haris dalam hati disekitar rerumputan hijau sejuk dan nyaman. Awan yang terang, udara yang bersahabat melengkapi kebahagiaan Haris yang akan mengejar mimpi bersama AMBISI.*) Siti Nurjannah, Mahasiswa Bidik Misi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar