Berlari Menju AMBISI
Oleh: Siti Nurjannah*)
Letih,
capek, lemas menjadi satu. Terasa lemas badan ini, tidak kuat untuk melangkah.
Kaki tersa berat, dan semakin berat. Itu yang Aku rasakan saat berjuang untuk
bisa menjadi anggota AMBISI. Beribu langkah yang Aku tempuh, hampir tak
mengenal waktu untuk merebahkan badan. Mata tak bisa tertutup dengan tenang,
badan tak bisa istirahat dengan tenang. Bunga tidur yang selalu menemani
tidurku, dengan dua warana. Hitam dan putih. Akankah Aku mendaptkan yang putih
itu atau yang hitam. Waktu demi waktu, terbayang akan masa depanku. Aku harus
bagaimana, kerja atau mengais ilmu. Berharap Aku bisa untuk mengais ilmu,
kendala bagiku adalah duit. “yah, inilah nasib orang yang tidak berduit.
Mungkin Aku akan mengais uang dari pada menagis ilmu. Terkadang Aku berfikir,
apakah sampai disini Aku mengenal bangku ilmu, apakah sampai disini Aku bertemu
dengan seorang pengajar”, kata Haris. Lamunan yang setiap hari menemani Haris,
meratapi nasib yang belum menentu. Hari demi hari terasa gelap, gelap dan gelap
.“Seakan tidak ada yang melirik orang sepertiku. Apa mungkin Aku terlalu
miskin. Apa mungkin Aku terlalu lemah. Ah entahlah..”, keluh Haris. Hari demi
hari keadaan semakin gelap, gelap dan gelap. Tak tau arah mana yang akan
ditempuh. Hari demi hari, Haris hanya bisa berharap Dia bisa menuntut ilmu.
Berharap, bisa bertemu dengan pengajar. Berharap bisa bertemu dengan barbagai
macam llmu, dan banyak teman dari berbagai daerah se-Nusantara.Ternyata
itu semua tidak hanya sekedar fatamorgana. Ternyata cahaya itu memang benar
ada. Hari-hari yang tadi gelap sekarang menjadi terang. Seakan terbangun dari
mimpi-mimpi yang membuat resah setiap waktu. Aku terbangun dari lamunanku, kaki
sudah mau diajak melangkah. Rasa letih, lemas dan capek akhirnya sudah
terbayarkan. Tak perlu Aku menunggu dilirik orang untuk dibaiyai dalam menuntuk
ilmu. Tak perlu Aku merengek-rengek pada orangtua yang rasanya tidak mungkin
mereka bisa. Malah akan menjadi beban mereka. Bintang terlihat terang saat
semua terjawab. Hari-hariku seakan semakin berarti. Aku tidak akan ketinggalan
dengan teman-temanku yang mayoritas mereka berduit. Aku bisa meraih cita-citaku
yang hampir terpendam, yang hampir tak akan Aku gapai. Tangisan keluarga yang
tak percaya semua ini akan terjdi pada ku. Yang tak percaya, bahwa Aku akan
melanjutkan langkahku mencari ilmu. Aku pun juga begitu, seakan tidak percaya bahwa Aku akan menerima beasiswa yang selama ini
Aku ingin meraihnya. Ternyata itu sudah berada di genggaman tangan ku. Ternyata
Tuhan tak pernah tidur, tak pernah tutup telinga, tak pernah diam untuk
hambanya yang Ia cintai. Rasa syukur dalam hati ku panjatkan. Akhirnya Aku
terpilih sebagai peserta di salah satu beasiswa. “oh, Tuhan ini adalah jawaban
dari semua tanyaku, terimakasih. Aku harap bisa menjalankan perintahku. Amiin”.
Tak di sangka, akhirnya haris bertemu dengan banyak teman di perguruan
tinggi-Nya yang awalnya senasib dengan dirinya. Sama-sama dari keluarga kurang
mampu, dan punya niat untuk mengais ilmu. Akhirnya Haris dengan semua temannya
dikumpulkan dengan kakak-kakak senior yang juga mendapat beasiswa seperti Haris.pertemuan
itu dinamakan PENABARA (Pengenalan Anggota Baru Ambisi). Dalam perkumpulan itu
mereka diperkenalkan pada dengan keluarga barunya dengan nama AMBISI
kepanjangan dari Aliansi Mahasiswa Bidik Misi. Sungguh gembira sekali hati
Haris, serasa ini adalah mimpi belaka. Berkumpul dengan orang yang senasib.“AMBISI,
ya ini adalah keluarga ke dua ku setelah keluarga rumah. Aku merasa bahagia,
nyaman dan serasa Aku mendapat orang-orang yang sayang padaku. AMBISI memberi
warna baru bagi hidupku. Memberikan semangat hidupku yang hampir kelam”, bisik
Haris dalam hati disekitar rerumputan hijau sejuk dan nyaman. Awan yang terang,
udara yang bersahabat melengkapi kebahagiaan Haris yang akan mengejar mimpi
bersama AMBISI.*) Siti
Nurjannah, Mahasiswa Bidik Misi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas
Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar