JAS
IMPIAN
Aku
berdiri dengan ribuan bayangan, berisi impian ku setelah tamat SMA. Lahir dari
keluarga orang tua hanya sebagai buruh tani. Mungkin Aku hanya bisa bermimpi
bisa memakai sebuah Jas dan bisa berkumpul dengan teman dari belahan Nusantara.
Dan bisa memilki seorang Dosen. Betapa bahagia bisa menuntut ilmu disana. Kalau
Aku tidak bisa melanjutkan, setidaknya menginjakkan kaki ke kampus tidak apa.
Walau hanya sekedar melihat. Selama ini hanya bisa melihat spanduk-spanduk yang mempromosikan PT masing-masing. Lamunanku sudah kemana-mana, hingga kaget saat ibu memanggilKu. “Togar, ayo makan dulu”. Inggih bu. Jawabku yang lari dari lamunan. Selesei makan, Aku mencoba minta izin pada kedua orang yang Aku sayang untuk melanjutkan meraih ilmu di Perguruan Tinggi. Tapi lidah sepertinya berat untuk berkata, mengingat profesi mereka yang tidak mungkin bisa membiayai. Akhirnya Aku batalkan saja, meskipun dalam hati punya keinginan yang kuat. Tapi rasa kasihan, telah melebihi niatku untuk melanjutkan. Aku hanya bisa pasrah. Keesokan hari Aku berangakat sekolah yang masih ditemani lamunan untuk melanjutkan. Sampai di sekoalah Aku hanya bisa mendengar teman-teman yang membicarakan kemana setelah lulus SMA. Dan Aku hanya bisa terdiam, dan sebagai pendengar setia. “Togar, kamu ingin melanjutkan kemana”, tanya salah seorang temanku. Aku kaget, Aku harus menjawab apa. “ Mungkin Aku tidak mencari Ilmu lagi teman, Aku mau mencari uang untuk membantu Adik sekolah”. “
Walau hanya sekedar melihat. Selama ini hanya bisa melihat spanduk-spanduk yang mempromosikan PT masing-masing. Lamunanku sudah kemana-mana, hingga kaget saat ibu memanggilKu. “Togar, ayo makan dulu”. Inggih bu. Jawabku yang lari dari lamunan. Selesei makan, Aku mencoba minta izin pada kedua orang yang Aku sayang untuk melanjutkan meraih ilmu di Perguruan Tinggi. Tapi lidah sepertinya berat untuk berkata, mengingat profesi mereka yang tidak mungkin bisa membiayai. Akhirnya Aku batalkan saja, meskipun dalam hati punya keinginan yang kuat. Tapi rasa kasihan, telah melebihi niatku untuk melanjutkan. Aku hanya bisa pasrah. Keesokan hari Aku berangakat sekolah yang masih ditemani lamunan untuk melanjutkan. Sampai di sekoalah Aku hanya bisa mendengar teman-teman yang membicarakan kemana setelah lulus SMA. Dan Aku hanya bisa terdiam, dan sebagai pendengar setia. “Togar, kamu ingin melanjutkan kemana”, tanya salah seorang temanku. Aku kaget, Aku harus menjawab apa. “ Mungkin Aku tidak mencari Ilmu lagi teman, Aku mau mencari uang untuk membantu Adik sekolah”. “
“lho, Togar kamu itu bintang kelas mengapa
tidak mau melanjutkan?
“ Aku hanya kasihan dengan kedua orangtuaku,
kita makan saja terkadang harus puasa apalagi untuk biaya kuliah. Mungkin itu
hanya mimpi bagiku”.
“kata siapa hanya mimpi”. Aku kaget ketika
mendengar suara tersebut, yang kemudian merankul bahuku. “kalau ada kemauan
pasti akan ada jalan kawan. Tak perlu, sedih siapa saja boleh kuliah. Menuntut
ilmu itu tidak hanya bagi orang yang berduit. Tapi adalah orang yang niat untuk
belajar.” Tambah temanku. Aku hanya bisa tersenyum, seakan semua itu akan
terjadi padaku. Tapi mungkin atau tidak hanya bisa melihat nanti.
“Tadi Aku dapat infomasi dari BK, bahwa ada
beasiswa selama kuliah yang di peruntukkan untuk anak yang bagus nilai ademiknya
dan bersal dari keluarga tidak mampu”. Mendengar pengumuman tersebut Aku sudah
seperti menerima hadiah yang Aku harapkan. Seakan mimpi itu sudah bisa Aku
raih, hati yang tadinya panas tersa disiram dengan air.
“yang benar kamu, mad?!”. Dia menganggukan
kepala dengan penuh senyum seakan ingin Aku bisa ikut melanjutkan di Perguruan
Tinggi. Setelah mendengar pengumuman itu Aku langsung memastikan di ruang BK.
Ternyata semua itu benar. Serasa Aku sudah bisa bernafas lagi, tak ku hiraukan
kedua orang yang Aku sayang mengizinkan atau tidak. Mendengar hal itu sudah
menjadi obat bagiku. Sesampai Aku di rumah, Aku sampaikan pengumuman itu kepada
orang tuaku. Namun mereka sepertinya belum bisa mengizinkan Aku untuk
melanjutkan. Dengan alsan, apakah pengumuman itu benar. Jangan-jangan setelah
dua tahun kita yang membiayai sendiri. Mendengar hal itu seakan Aku menciut semakin
kecil dan cahaya yang tadi terang kembali redup lagi. Karena Aku belum tahu
info lengkapnya bagaimana, jadi Aku tidak bisa menjelaskannya secara deteail.
Aku ingin besok kembali ke BK untuk menanyakan hal itu kepada pak Jumadi guru
BK di sekolahku. Keesokan hari, setelah istirahat Aku mencoba mencari informasi
tersebut. Serasa setengah jam saya di ruang BK untuk medengar penjelasan dari
pak Jumadi mengenai beasiswa. Dan pak Jumadi sangat setuju kalau Aku ikut
progarm beasiswa tersebut. Aku hanya bisa tersenyum.
Saat keluarga sudah berkumpul, Aku mencoba
menjelasakan tentang beasiswa tersebut kepada orang tuaku. Diatas tikar yang
ditemani lampu yang tidak begitu terang. Mendengar hal tersebut, mereka masih
menyuruh menungguku untuk mendapat izin dari mereka berdua. Hati merasa tidak
sabar mendengar apa yang ingin disampaikan kepadaKu. Apakah Aku diizinkan atau
tidak. Dua hari kemudian, setelah mereka pulang dari kerja di hutan yang letaknya
sangat jauh dari rumah, ternyata memberi izin pada ku untuk mengikuti program
beasiswa tersebut. Hatiku sudah tidak karuan, senangnya buak main. Langsung Aku
mencium tangn mereka dan mengucapkan terima kasih disertai air mata dari kami.”
Semoga kamu berhasil Le!”, tambah bapak sambil menepuk pundakku. Tapi perjuangan
ku tidak hanya sampai disini. Banyak yang tidak senang kalau Aku akan
melanjutkan, yaitu tetangga kami yang merasa iri pada kami. Sampai suati hari
Aku mendengar sendiri, bahwa mereka mengatakan, “ buat makan saja tidak ada mau
kuliah, paling setelah lulus juga nganggur mending bantu kerja di hutan”.
Setelah mendengar hal tersebut hati meras teriris dengan pisau. Aku hanya bisa
mencoba bersabar
Biarkan orang lain berkata seperti itu, mungkin
ini adalah suatu ujian yang dihadapi oleh seoarang yang akan meraih kemengan.
Didalam ibadah malam yang hampir Aku lakukan setiap hari Aku selipkan sebuah
doa,” Ya Allah hanya Engaku tempat Hamba meminta pertolongan. Buakakanlah hati
mereka, agar tidak iri pada orang lain. Semoga dengan ditermanya Saya, bisa
membuka hati mereka yang tertutup rapat dari cahaya. Amin”. Setelah mendapat
izin dari kedua orangtua segera Aku mendaftarkan diri dan mengurus berbagai
persyaratan. Pengumumannya tinggal minggu depan. Hati yang bergetar, terbayang
pada tetangga yang selalu menggembosi agar Aku tidak melanjutkan kuliah. Aku
ingin buktikan kepada dunia bahwa anak bruh tani juga bisa kuliah, bisa berprestasi.
Pengumuman tinggal besok, dan Aku harus ke ruang BK. Sebelum Aku berangkat
sekolah, minta doa restu kepada kedua orang yang Aku sayang mudah-mudahan
impian anakya tercapai. Meskipun dari kalangan biasa tapi mencoba untuk menjadi
luar biasa. Sambil mengayuh sepeda, kuucapkan zikir dan doa. Saat sampai disekolah,
saat melewati kantor BK, pak Jumadi memeberitahu Aku bahwa nanti pukul 11.00
siang untuk datang ke kantor BK melihat pengumuman beasiswa.
Mendengar hal itu, hatiku makin tak karuan
apakah Aku bisa membahagiakan orang yang Aku sayangi, apakah Aku bisa memberi
nama baik sekolah Ku. Pikiran sudah mulai campur aduk. Sambil menanti
pengumuman Aku sibukkan diriku dengan berdiam di mushola sekoalah. Aku berharap
Tuha berpihak kepadaKu. Kupasrahkan semuanya. Jam sebelas sudah tiba, rasanya
berat kaki untuk melangkah ke kantor BK. Apaligp saat tiba didepan pintu,
jantung semakin berdebar. “ Togar, silahkan duduk” kata pak Jumadi. Aku
menganggukkan kepala disertai senyum manis dari bibirKu, dan mengambil temapt
duduk yang paling nyaman. Ditengah-tengah aku menarik nafas, tiba-tibapak
Jukadi mengulurkan tangnnya dan mengucapkan selamat padaKu. Aku tak menyangka,
ternyata Aku bisa memakai jas impianKu. Dan bisa bertemu dengan teman-teman se-Nusantara
serta memiliki dosen. Ayah ibu, alhamdulillah dapat duduk di bangku kuliah.
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar