Jika Memang Dia
Terasa sudah dua
belas bulan aku jalani hari dengannya. Menemaniku menjalani hidup yang begitu
keras ini, dengan kasih sayang. Seakan kasih sayang itu tak akan mungkin
terbagi dengan yang lain. Senyumannya begitu menenangkan hati, lirik matanya
menampakkan kesetiaan darinya, genggaman tangannya menguatkan keyakinanku akan
tulus cintanya.
***
Tiba-tiba
handphone Rara berdering tanda SMS masuk
“sayang, aku
sangat mencintaimu. Aku ingin kamu terakhir dalam pencarian cintaku”. Membaca
pesan itu Rara semakin yakin akan ketulusan cinta sang kekasihnya. Kemudian
Rara membalas pesan itu “iya sayang, aku juga ingin kamu yang terakhir dalam
hidupku”. Rara begitu sangat bahagia, meski kata-kata itu tidak melalui pesan
lisan. Hal itu sudah membuat hatinya tenang, seakan tidak ada apa-apa.
Rara dan Rehan
adalah sepasang kekasih yang sedang menjalani hubungan LDR. Istilah anak remaja
jaman sekarang yang artinya hubungan jarak jauh. Hubungan jarak jauh tidak
semua orang bisa menjalani. Pasti akan selalu dipenuhi rasa curiga dan cemburu.
Meski sudah yakin akan ketulusan cinta sang kekasih, rasa itu pasti ada pada
setiap pasangan. Apabila sudah tidak dapat dibendung lagi rasa cemburu itu,
bisa berakibat hubungan berhenti di tengah jalan. Dan berakhir dengan
kebencian. Namun tidak dengan Rara dan Rehan. Mereka saling memberi pengertian bahwa
masing-masing berjanji tidak akan berpaling hati pada yang lain. Tapi perasaan
orang bisa berubah.
Rehan adalah
seorang pelajar disalah satu Universitas Jakarta. Sedangkan Rara merupakan
salah satu pelajar disalah satu Universitas Surabaya. Jarak jauh ini membuat
mereka jarang bertemu, dan sering dilanda rindu. Apabila saling rindu, hanya
bisa lewat pesan singkat atau telepon. Serta melihat gambar sang kekasih. Dan
apabila salah satu tidak ada kabar, pasti akan saling menanyakan. Mengapa tidak
ada kabar, dan mengapa tidak membalas pesan yang telah dikirim. Terkadang hal
tersebut memicu pertengkaran kecil.
***
Hari demi hari
Rara merasakan ada yang beda dengan hubungan yang mereka jalani. Tak seperti
biasanya, yang selalu memberi kabar. Namun kali ini ada yang beda dengan Rehan.
Jarang ada kabar, setiap dihubungi selalu sibuk. Namun Rara mencoba mengerti
akan kesibukan kasihnya, tapi Rara tetap memperhatikan meski pesan singkat
jarang dibalas.
Setiap waktu Rara
menunggu balasan dari Rehan tapi tak kunjung datang. Rasa gelisah selalu
menyelimuti hari-hari Rara. Hingga kuliah pun tak bisa konsntrasi.
“Rara, jangan
melamun. Dengarkan pak Dosen”, salah seorang sahabat Rara mencoba menegur Rara
dengan menepuk pundak Rara.
“eh.. eh iya Chi”,
Rara sentak kaget. Chi heran dengan kelakuan sahabatnya yang akhir-akhir ini
sering murung dan gelisah. Beberapa menit kemudian jam istirahat sudah tiba.
Waktunya Chi menginstrogasi sahabatnya.
“Rara, Aku mau
bicara dengan kamu”
“iya, ada apa
Chi”.
“kenapa kamu
akhir-akhir ini kelihatan murung?”
“Rehan,,”
“kenapa Rehan, dia
nyakitin kamu?”
“enggak,, namun
selama seminggu lebih dia nggak ada kabar. Aku SMS nggak di balas, Aku Telepon
juga nggak diangkat. Aku bingung Chi, apa yang harus Aku lakukan. Aku sangat
membutuhkannya, Aku merindukannya, Aku nggak mau kehilangan dia. Aku sayang
dia”. Saat itu pun tangisnya pecah, dipundaknya Chi. Chi mencoba
menenagngkannya.
Setelah itu tanpa
sepengetahuan Rara, Chi mencari info tentang Rehan. Dan akhirnya mengejutkan
ketika melihat FB. Status “Rehan Ardian Bertunangan dengan Raisa Putri”. Chi
yang bukan siapa-siapa Rehan merasa sangat kesal, rasanya tangan sudah gatal
ingin menampar wajah Rehan. Namun Chi tidak begitu langsung percaya. Dia
mencoba mencari info selengkapnya. Dan ternyata benar, saat bertanya pada salah
seorang temannaya di Jakarta yang kebetulan satu Jurusan dengan Rehan,Bahwa
Rehan selingkuh.
***
“nggak, Chi,, dia
nggak mungkin mendua. Dia sudah janji padaku akan serius padaku. Dia nggak
mungkin punya yang lain selain Aku. Aku percaya dia”.
“Rara, coba pikir
pakai logika, mulai kamu tidak komunikasi sama dia adalah tanggal 13 Oktober.
Dan saat itu juga dia membuat status yang berpacaran dengan Raisa Putri. Dia
sudah tidak mempedulikan kamu. Tidak memberi kabar sama kamu selama sebulan
lebih. Pasangan macam apa itu. Di FB aja aktif”.
“Aku, mengerti
maksud kamu Chi. Terima kasih sudah mau membantuku. Bukan Aku tidak percaya
akan ini semua. Tapi Aku akan yakin jika Aku melihatnya sendiri dengan mata
kepalau,” dengan nada yang lemah diiringi isak tangis.
“kamu mau ke
Jakarta?”. Rara hanya menganggukkan kepala.
“kalau begitu Aku
ikut!”. Rara mencoba melarangnya, namun Chi tetap bersikeran untuk ikut.
***
Monas sudah nampak
terlihat. Begitu mengagumkan, dan menarik bagi yang melihatnya. Kota yang
besar, terdapat banyak penduduk dari luar Jakarta. Di kota itu Rara mencoba
memantapkan hatinya untuk mengahaapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Gedung besar, terdapat ribuan manusia mencari ilmu disini. Berbagai macam
budaya bercampur baur dari satu. Kaki mulai melangkah di dalam gedung yang besar
Fakultas Kedokteran. Hati sudah mulai tak karuan. Langakah kaki menuju ke
lantai tiga, tempat Rehan belajar.
Kaki sampai pada
lantai dua, tiba-tiba langkah Rara dan Chi berhenti. Mata menatap hal tak
terduga. Sebuah kursi panjang terdapat dua insan yang duduk mesra. Rambut
terurai panjang, wajah paras cantik.
Disampingnya laki-laki tampan, rambut tertata rapi dengn hem biru
kotak-kotak. Celana hitam, sepatu hitam. Karena dia menyukai warna biru. Rara
dan Chi mencoba mendekati kedua insan itu.
Laki-laki itu
tersentak kaget ketika melihat Chi dan Rara. Rara hampir mau meneteskan air
mata, tapi mencoba ditahan. Rehan berdiri dengan keadaan tegang.
“hai Rey, apa
kabar. Ternyata di sini tempat kamu belajar. Wah ini siapa Rey, pacar kamu?”.
Pertanyaan Chi sungguh meyayat hati Rehan. Bibir Rehan begitu kaku ingin
berucap kata. Keringat sudah mulai keluar di dagu. Walau sebenarnya Chi ingin
mengeluarkan amarahnya. Tapi teringat kata-kata Rara sebelum berangkat, jangan
terpancing emosi
“eh, Chi kabar Aku
baik. Ada acara apa di sini?”. Seakan Rey mencoba lupa dengan salah satu
pertanyaan dan seperti tidak menganggap Rara yang status sebagai kekasihnya.
“aku sama Rara,
ada undangan temanku yang sedang ultah disini. Kebetulan ketemu kamu. Ini siapa
Rey?”. Sambil menunjuk kearah Raisa. Walau sebenarnya Chi sudah tau cewe yang
ada disampiny Rehan. Sedang Rara hanya terdiam tertunduk menahan air mata,
seakan mulut sudah terunci.
“kenalkan saya
Raisa, kekasihnya Rehan”. Mata Rara, dan Chi langsung terbelalak. Seakan
mendengar petir yang sedang menggelegar. Seakan Chi bisa mengendalikan emosi.
Mencoba bersikap tenang dengan keadaan. Namun Rara hanya terdiam. Hatinya telah
hancur. Hubungan yang telah dibina hancur sudah.
“wah, pacarnya. Kapan
jadiannya Raisa?”
“sejak tanggal, 13
Oktober lalu”. Setelah semua jelas, mereka langsung meninggalkan Raisa dan
Rehan. Rehan hanya berdiri kaku, tubuhnya bergetar. Seperti akan mengahadapi
dosen penguji. Duduk lemas tak berdaya, sambil melihat Rara dan Chi berlalu.
“Chi, terima kasih
ya. Sekarang Aku lega sudah melihat semua ini. Dengan ini Aku tidak akan
mengaharapkan dia lagi. Dan Aku tahu, kenapa dia memilih orang lain, karena
Raisa lebih baik dari diriku”.
“iya sama-sama.
Tapi Ra, seharusnya tidak begitu..”
“sudah Chi, Aku
sudah lega bisa melihatnya sendiri. Allah sudah menjawab pertanyaannku. Bahwa
dia bukan yang terbaik untukku. Masih ada yang akan menyayangiku dengan tulus,
walau terpisah jarak dan waktu, dia calon suamiku kelak”. Chi hanya terdiam,
dan mereka berlalu pulang.
Cinta
sejati tidak akan pernah menyakiti. Cinta sejati mau menerima keadaan
masing-masing pasangannya. Cinta sejati akan abadi untuk selamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar