Senin, 25 November 2013

Cerpen

Jika Memang Dia
Terasa sudah dua belas bulan aku jalani hari dengannya. Menemaniku menjalani hidup yang begitu keras ini, dengan kasih sayang. Seakan kasih sayang itu tak akan mungkin terbagi dengan yang lain. Senyumannya begitu menenangkan hati, lirik matanya menampakkan kesetiaan darinya, genggaman tangannya menguatkan keyakinanku akan tulus cintanya.
***
Tiba-tiba handphone Rara berdering tanda SMS masuk
“sayang, aku sangat mencintaimu. Aku ingin kamu terakhir dalam pencarian cintaku”. Membaca pesan itu Rara semakin yakin akan ketulusan cinta sang kekasihnya. Kemudian Rara membalas pesan itu “iya sayang, aku juga ingin kamu yang terakhir dalam hidupku”. Rara begitu sangat bahagia, meski kata-kata itu tidak melalui pesan lisan. Hal itu sudah membuat hatinya tenang, seakan tidak ada apa-apa.
Rara dan Rehan adalah sepasang kekasih yang sedang menjalani hubungan LDR. Istilah anak remaja jaman sekarang yang artinya hubungan jarak jauh. Hubungan jarak jauh tidak semua orang bisa menjalani. Pasti akan selalu dipenuhi rasa curiga dan cemburu. Meski sudah yakin akan ketulusan cinta sang kekasih, rasa itu pasti ada pada setiap pasangan. Apabila sudah tidak dapat dibendung lagi rasa cemburu itu, bisa berakibat hubungan berhenti di tengah jalan. Dan berakhir dengan kebencian. Namun tidak dengan Rara dan Rehan. Mereka saling memberi pengertian bahwa masing-masing berjanji tidak akan berpaling hati pada yang lain. Tapi perasaan orang bisa berubah.
Rehan adalah seorang pelajar disalah satu Universitas Jakarta. Sedangkan Rara merupakan salah satu pelajar disalah satu Universitas Surabaya. Jarak jauh ini membuat mereka jarang bertemu, dan sering dilanda rindu. Apabila saling rindu, hanya bisa lewat pesan singkat atau telepon. Serta melihat gambar sang kekasih. Dan apabila salah satu tidak ada kabar, pasti akan saling menanyakan. Mengapa tidak ada kabar, dan mengapa tidak membalas pesan yang telah dikirim. Terkadang hal tersebut memicu pertengkaran kecil.
***
Hari demi hari Rara merasakan ada yang beda dengan hubungan yang mereka jalani. Tak seperti biasanya, yang selalu memberi kabar. Namun kali ini ada yang beda dengan Rehan. Jarang ada kabar, setiap dihubungi selalu sibuk. Namun Rara mencoba mengerti akan kesibukan kasihnya, tapi Rara tetap memperhatikan meski pesan singkat jarang dibalas.
Setiap waktu Rara menunggu balasan dari Rehan tapi tak kunjung datang. Rasa gelisah selalu menyelimuti hari-hari Rara. Hingga kuliah pun tak bisa konsntrasi.
“Rara, jangan melamun. Dengarkan pak Dosen”, salah seorang sahabat Rara mencoba menegur Rara dengan menepuk pundak Rara.
“eh.. eh iya Chi”, Rara sentak kaget. Chi heran dengan kelakuan sahabatnya yang akhir-akhir ini sering murung dan gelisah. Beberapa menit kemudian jam istirahat sudah tiba. Waktunya Chi menginstrogasi sahabatnya.
“Rara, Aku mau bicara dengan kamu”
“iya, ada apa Chi”.
“kenapa kamu akhir-akhir ini kelihatan murung?”
“Rehan,,”
“kenapa Rehan, dia nyakitin kamu?”
“enggak,, namun selama seminggu lebih dia nggak ada kabar. Aku SMS nggak di balas, Aku Telepon juga nggak diangkat. Aku bingung Chi, apa yang harus Aku lakukan. Aku sangat membutuhkannya, Aku merindukannya, Aku nggak mau kehilangan dia. Aku sayang dia”. Saat itu pun tangisnya pecah, dipundaknya Chi. Chi mencoba menenagngkannya.
Setelah itu tanpa sepengetahuan Rara, Chi mencari info tentang Rehan. Dan akhirnya mengejutkan ketika melihat FB. Status “Rehan Ardian Bertunangan dengan Raisa Putri”. Chi yang bukan siapa-siapa Rehan merasa sangat kesal, rasanya tangan sudah gatal ingin menampar wajah Rehan. Namun Chi tidak begitu langsung percaya. Dia mencoba mencari info selengkapnya. Dan ternyata benar, saat bertanya pada salah seorang temannaya di Jakarta yang kebetulan satu Jurusan dengan Rehan,Bahwa Rehan selingkuh.
***
“nggak, Chi,, dia nggak mungkin mendua. Dia sudah janji padaku akan serius padaku. Dia nggak mungkin punya yang lain selain Aku. Aku percaya dia”.
“Rara, coba pikir pakai logika, mulai kamu tidak komunikasi sama dia adalah tanggal 13 Oktober. Dan saat itu juga dia membuat status yang berpacaran dengan Raisa Putri. Dia sudah tidak mempedulikan kamu. Tidak memberi kabar sama kamu selama sebulan lebih. Pasangan macam apa itu. Di FB aja aktif”.
“Aku, mengerti maksud kamu Chi. Terima kasih sudah mau membantuku. Bukan Aku tidak percaya akan ini semua. Tapi Aku akan yakin jika Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalau,” dengan nada yang lemah diiringi isak tangis.
“kamu mau ke Jakarta?”. Rara hanya menganggukkan kepala.
“kalau begitu Aku ikut!”. Rara mencoba melarangnya, namun Chi tetap bersikeran untuk ikut.
***
Monas sudah nampak terlihat. Begitu mengagumkan, dan menarik bagi yang melihatnya. Kota yang besar, terdapat banyak penduduk dari luar Jakarta. Di kota itu Rara mencoba memantapkan hatinya untuk mengahaapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Gedung besar, terdapat ribuan manusia mencari ilmu disini. Berbagai macam budaya bercampur baur dari satu. Kaki mulai melangkah di dalam gedung yang besar Fakultas Kedokteran. Hati sudah mulai tak karuan. Langakah kaki menuju ke lantai tiga, tempat Rehan belajar.
Kaki sampai pada lantai dua, tiba-tiba langkah Rara dan Chi berhenti. Mata menatap hal tak terduga. Sebuah kursi panjang terdapat dua insan yang duduk mesra. Rambut terurai panjang, wajah paras cantik.  Disampingnya laki-laki tampan, rambut tertata rapi dengn hem biru kotak-kotak. Celana hitam, sepatu hitam. Karena dia menyukai warna biru. Rara dan Chi mencoba mendekati kedua insan itu.
Laki-laki itu tersentak kaget ketika melihat Chi dan Rara. Rara hampir mau meneteskan air mata, tapi mencoba ditahan. Rehan berdiri dengan keadaan tegang.
“hai Rey, apa kabar. Ternyata di sini tempat kamu belajar. Wah ini siapa Rey, pacar kamu?”. Pertanyaan Chi sungguh meyayat hati Rehan. Bibir Rehan begitu kaku ingin berucap kata. Keringat sudah mulai keluar di dagu. Walau sebenarnya Chi ingin mengeluarkan amarahnya. Tapi teringat kata-kata Rara sebelum berangkat, jangan terpancing emosi
“eh, Chi kabar Aku baik. Ada acara apa di sini?”. Seakan Rey mencoba lupa dengan salah satu pertanyaan dan seperti tidak menganggap Rara yang status sebagai kekasihnya.
“aku sama Rara, ada undangan temanku yang sedang ultah disini. Kebetulan ketemu kamu. Ini siapa Rey?”. Sambil menunjuk kearah Raisa. Walau sebenarnya Chi sudah tau cewe yang ada disampiny Rehan. Sedang Rara hanya terdiam tertunduk menahan air mata, seakan mulut sudah terunci.
“kenalkan saya Raisa, kekasihnya Rehan”. Mata Rara, dan Chi langsung terbelalak. Seakan mendengar petir yang sedang menggelegar. Seakan Chi bisa mengendalikan emosi. Mencoba bersikap tenang dengan keadaan. Namun Rara hanya terdiam. Hatinya telah hancur. Hubungan yang telah dibina hancur sudah.
“wah, pacarnya. Kapan jadiannya Raisa?”
“sejak tanggal, 13 Oktober lalu”. Setelah semua jelas, mereka langsung meninggalkan Raisa dan Rehan. Rehan hanya berdiri kaku, tubuhnya bergetar. Seperti akan mengahadapi dosen penguji. Duduk lemas tak berdaya, sambil melihat Rara dan Chi berlalu.
“Chi, terima kasih ya. Sekarang Aku lega sudah melihat semua ini. Dengan ini Aku tidak akan mengaharapkan dia lagi. Dan Aku tahu, kenapa dia memilih orang lain, karena Raisa lebih baik dari diriku”.
“iya sama-sama. Tapi Ra, seharusnya tidak begitu..”

“sudah Chi, Aku sudah lega bisa melihatnya sendiri. Allah sudah menjawab pertanyaannku. Bahwa dia bukan yang terbaik untukku. Masih ada yang akan menyayangiku dengan tulus, walau terpisah jarak dan waktu, dia calon suamiku kelak”. Chi hanya terdiam, dan mereka berlalu pulang.
Cinta sejati tidak akan pernah menyakiti. Cinta sejati mau menerima keadaan masing-masing pasangannya. Cinta sejati akan abadi untuk selamanya.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar