Senin, 25 November 2013

Cerpen

SANDARAN HATI YANG SEMU
Aku Fika mahasiswa yang hobi sekali dengan dunia fotografer. Setiap kali ada kegiatan kamera tak lepas dari genggaman tanganku. Aku lebih suka mengambil gambar yang nuansa hijai segar, ya seperti tumbuhan, pohon dan sesuatu yang alami. Sekarang Aku ikut kegiatan pers di kampus dan Aku memilih bagian design grafis dan juga fotografrer. Dengan Aku mengikuti ini, hobi ku dapat tersalurkan. Hem, jadi seorang fotografer itu menurutku sangat menyenangkan dan juga sangat menantang. Pernah suatu hari, Aku sedang meliput taruhan antar mahasiswa yang sedang lempar-lemparan kulit pisang. Dan ternyata, kamera dan juga wajahku yang menjadi korban juga. Wah wah ternyata aksi lemparan itu tidak pandang bulu juga. Tidak apa, untuk mendapat hasil yang baik memang harus terjun ke lokasi. Tapi Aku sangat menikmati itu semua. Sekarang Aku sudah semester tujuh, sudah senior hehe. Saatnya memulai serius untuk masa depan hehe.

Bebagi..


Berlari Menju AMBISI

Oleh: Siti Nurjannah*)
Letih, capek, lemas menjadi satu. Terasa lemas badan ini, tidak kuat untuk melangkah. Kaki tersa berat, dan semakin berat. Itu yang Aku rasakan saat berjuang untuk bisa menjadi anggota AMBISI. Beribu langkah yang Aku tempuh, hampir tak mengenal waktu untuk merebahkan badan. Mata tak bisa tertutup dengan tenang, badan tak bisa istirahat dengan tenang. Bunga tidur yang selalu menemani tidurku, dengan dua warana. Hitam dan putih. Akankah Aku mendaptkan yang putih itu atau yang hitam.

Cerpen

JAS IMPIAN
Aku berdiri dengan ribuan bayangan, berisi impian ku setelah tamat SMA. Lahir dari keluarga orang tua hanya sebagai buruh tani. Mungkin Aku hanya bisa bermimpi bisa memakai sebuah Jas dan bisa berkumpul dengan teman dari belahan Nusantara. Dan bisa memilki seorang Dosen. Betapa bahagia bisa menuntut ilmu disana. Kalau Aku tidak bisa melanjutkan, setidaknya menginjakkan kaki ke kampus tidak apa.

Cerpen

Jika Memang Dia
Terasa sudah dua belas bulan aku jalani hari dengannya. Menemaniku menjalani hidup yang begitu keras ini, dengan kasih sayang. Seakan kasih sayang itu tak akan mungkin terbagi dengan yang lain. Senyumannya begitu menenangkan hati, lirik matanya menampakkan kesetiaan darinya, genggaman tangannya menguatkan keyakinanku akan tulus cintanya.